Wednesday, April 19, 2006

Menemukan Tuhan melalui Kitab Suci





"Nothing is more practical than finding God"

Pedro Arrupe, S.J. (1907-1991)
Superior General of the Society of Jesus 1961-1984






Menemukan Tuhan melalui Kitab Suci

Cardinal Martini, S.J.


Tujuan dari membaca Kitab Suci bukan supaya kita menjadi ahli Kitab Suci, tetapi supaya kita menjadi pendoa yang membiarkan Kitab Suci membimbing kita pada perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang memanggil kita dalam situasi riil hidup kita, di sini dan sekarang. Teks Kitab Suci tetap merupakan titik tolak dan acuan yang penting, tetapi darinya muncul keseluruhan aliran refleksi, pertanyaan, analisis, tanggapan yang memuaskan pikiran dan menghangatkan hati kita. Metode lectio divina khususnya sangat bermanfaat untuk tujuan ini.

Perjalanan menemukan Tuhan melalui Kitab Suci ini tidak mudah, karena kita bisa diibaratkan seperti murid-murid yang sedang dalam perjalanan bersama Yesus menuju Emmaus yang, " sedih...seolah-olah buta, sehingga mereka tidak mengenali Dia." Tidak mudah bagi Yesus untuk meyakinkan teman perjalanannya, jika perjalanan yang panjang, makan malam bersama, dan pemecahan roti diperlukan sebelum mata mereka terbuka.

Memahami makna Kitab Suci memerlukan proses yang kontinyu dan lambat yang berlangsung selama perjalanan dari siang sampai malam, sebuah gambaran peziarahan kita sepanjang hidup. Ini adalah sebuah jalan panjang yang kita semua ikuti, sampai suatu saat ketika mata kita terbuka pada visi Anak Domba Allah yang memecahkan roti di meja Kerajaan Allah.

Tuesday, April 18, 2006

Praktek Lectio Divina Kelompok

Praktek Lectio Divina Kelompok

Pater Luke Dysinger, O.S.B.

Catatan:

Beberapa tahun belakangan ini banyak bentuk-bentuk “grup lectio” yang populer dan dipraktekkan secara luas. Latihan-latihan kelompok ini dapat menjadi sarana yang sangat berguna untuk memperkenalkan dan mendorong praktek lectio divina; tetapi mereka seharusnya tidak menjadi pengganti untuk perjumpaan dengan Allah yang hidup yang hanya dapat terjadi dalam kesendirian melalui lectio divina pribadi. Bentuk lectio divina kelompok ini berhasil dengan baik dalam kelompok yang terdiri dari 4 – 8 orang. Pemimpin kelompok mengkoordinasi proses dan memfasilitasi sharing. Mereka yang secara teratur mempraktekkan metode doa dan sharing mengunakan Kitab Suci ini menemukan bahwa metode ini merupakan cara yang ampuh untuk mengembangkan kepercayaan (trust) di dalam kelompok.

A. Mendengarkan sentuhan lembut Kristus Kitab Suci

Satu orang membaca dengan keras (dua kali) pesan dari Kitab Suci, sementara yang lain memberi perhatian pada beberapa bagian yang khususnya bermakna bagi masing-masing pribadi.

Hening selama 1-2 menit. Masing-masing mendengarkan dan perlahan-lahan mengulang-ulang sebuah kata atau frase yang menarik.

Sharing dengan keras: [sebuah kata atau frase yang menarik bagi masing-masing pribadi]. Sebuah pernyataan singkat tentang satu atau beberapa kata. Jangan ada elaborasi.

B. Bagaimana Kristus Kitab Suci berbicara kepada SAYA

Pembacaan kedua dari pesan yang sama oleh orang yang berbeda.

Hening selama 2-3 menit. Refleksi pada “Di mana kandungan dari bacaan ini menyentuh hidupku hari ini?”

Sharing dengan keras: Secara singkat: “Saya mendengar, saya melihat ........”

C. Apa yang dikehendaki Kristus Kitab Suci untuk saya kerjakan

Pembacaan ketiga oleh orang kedua tadi

Hening selama 2-3 menit. Refleksi pada “Aku percaya Tuhan menghendaki aku untuk ................ hari ini/minggu ini.”

Sharing dengan keras: tentang hasil refleksi masing-masing. [perhatikan secara khusus pada apa yang disharingkan oleh teman di sebelah kanan anda].

Setelah sharing selesai, masing-masing mendoakan teman di sebelah kanannya.

Catatan: Siapa saja boleh “pass” kapan saja. Jika anda lebih menyukai untuk doa hening dibanding sharing, nyatakan ini dengan keras dan tutup doa hening anda dengan mengucapkan Amin.

Monday, April 17, 2006

Praktek Lectio Divina Pribadi

Praktek Lectio Divina Pribadi

Pater Luke Dysinger, O.S.B

Pilih sebuah teks Kitab Suci yang ingin anda doakan. Banyak orang Kristen menggunakan satu dari bacaan-bacaan liturgi Ekaristi untuk hari itu sebagai bahan lectio divina; yang lain lebih suka untuk bekerja perlahan menggunakan buku tertentu dari Kitab Suci (misalkan Mazmur). Tidak menjadi masalah teks mana yang dipilih, sepanjang anda tidak menentukan tujuan untuk menyelesaikan sejumlah halaman tertentu dari teks; jumlah halaman dari teks yang “diselesaikan” adalah di tangan Tuhan, bukan di tangan anda.

Tempatkan diri anda dalam posisi yang nyaman dan biarkan diri anda menjadi hening. Beberapa orang Kristen fokus selama beberapa saat pada pernafasan mereka; yang lain memiliki “kata doa” atau “frase doa” kesukaan yang dilantunkan secara perlahan dengan tujuan untuk mencapai keheningan. Untuk beberapa orang praktek yang dikenal dengan “doa pemusatan” membuat pengantar yang singkat dan bagus ke lectio divina. Gunakan metode apapun yang terbaik bagi anda dan biarkan diri anda menikmati keheningan selama beberapa saat.

Kemudian masuklah ke dalam teks dan bacalah perlahan, hati-hati. Cecaplah setiap bagian dari bacaan, terus-menerus dengarkan “suara yang lirih dan hening” dari sebuah kata atau frase yang entah bagaimana mengatakan, “aku untukmu hari ini.” Jangan mengharapkan pencerahan atau ekstasi. Dalam lectio divina Tuhan mengajar kita untuk mendengarkan Dia, untuk mencari-Nya dalam keheningan. Ia tidak menjangkau atau menyentuh kita; sebaliknya, Ia dengan pelan dan lembut mengundang kita untuk lebih masuk ke dalam keberadaan-Nya.

Selanjutnya masukkan kata atau frase tersebut ke dalam diri anda. Ingat-ingatlah dan secara perlahan katakan dalam hati secara berulang kepada diri anda, yang memungkinkan kata atau frase itu berinteraksi dengan dunia perhatian, memori dan gagasan anda yang paling dalam. Jangan takut akan “gangguan”. Memori atau pikiran adalah bagian diri anda sendiri, yang ketika mereka muncul selama lectio divina, diminta untuk dipersembahkan pada Tuhan bersama sisa diri anda yang terdalam. Biarkan perenungan mendalam, pengunyahan ini mengundang anda untuk berdialog dengan Tuhan.

Kemudian, berbicaralah pada Tuhan. Apakah anda menggunakan kata-kata atau gagasan-gagasan atau khayalan-khayalan atau semuanya tidaklah penting. Berinteraksilah dengan Tuhan seperti anda berinteraksi dengan seseorang yang anda tahu mencintai dan menerima anda. Dan persembahkanlah pada-Nya apa yang sudah anda temukan pada diri anda selama anda mengalami meditatio. Alami diri anda sebagai imam yang adalah diri anda. Alamilah Tuhan yang menggunakan kata atau frase yang sudah Ia berikan pada anda sebagai alat untuk memberkati, mengubah gagasan dan memori, di mana perenungan anda pada sabda-Nya sudah dibangunkan. Persembahkanlah pada Tuhan apa yang sudah anda temukan dalam hati anda.

Akhirnya, beristirahatlah dalam dekapan Allah. Dan ketika Ia mengundang anda untuk kembali ke perenungan anda pada sabda-Nya atau pada dialog mendalam anda dengan-Nya, laksanakan. Belajarlah untuk menggunakan kata-kata ketika kata-kata ada gunanya, dan biarkan kata-kata pergi ketika mereka tidak diperlukan lagi. Nikmatilah dalam kesadaran bahwa Allah bersama anda baik dalam kata-kata maupun keheningan, dalam aktivitas spiritual maupun dalam kesediaan menerima yang paling dalam.

Kadang-kadang dalam lectio divina seseorang akan kembali beberapa kali ke teks yang tercetak, mungkin untuk mencecap konteks dari kata atau frase yang sudah Tuhan berikan, atau untuk mencari sebuah kata atau frase baru untuk direnungkan. Pada saat-saat yang lain hanya satu kata atau frase tunggal akan mengisi keseluruhan waktu lectio divina. Tidak perlu untuk menguji kualitas dari lectio divina anda seolah-olah anda sedang mengejar tujuan tertentu: lectio divina tidak memiliki tujuan selain menikmati saat bersama Tuhan melalui medium sabda-Nya.

Sunday, April 16, 2006

Pengantar Lectio Divina

Menerima Pelukan Tuhan: Seni Kuno Lectio Divina

Pater Luke Dysinger, O.S.B.

1. Proses Lectio Divina

Sebuah seni yang sangat kuno, yang dipraktekkan suatu saat oleh semua orang Kristen, adalah teknik yang dikenal sebagai lectio divina – sebuah doa kontemplatif pelan dari ayat Kitab Suci yang memungkinkan Sabda Allah menjadi alat untuk persatuan dengan Allah. Praktek kuno ini sudah dipertahankan dalam tradisi biarawan biarawati Kristen, dan merupakan salah satu warisan berharga dari biarawan biarawati Benediktin. Bersama dengan Liturgi dan kerja harian, waktu yang diatur secara khusus untuk lectio divina memungkinkan kita untuk menemukan dalam hidup keseharian kita sebuah ritme spiritual. Di dalam ritme ini kita menemukan kemampuan yang bertambah untuk mempersembahkan diri kita dan hubungan kita dengan Allah, dan untuk menerima pelukan yang Allah terus menerus anugerahkan bagi kita dalam pribadi putra-Nya Yesus Kristus.

Lectio – membaca/mendengarkan

Seni lectio divina mulai dengan mengolah kemampuan untuk mendengarkan secara mendalam, untuk mendengarkan “dengan telinga hati kita” seperti dorongan yang disampaikan St. Benedict pada kita dalam Prolog untuk Aturan. Ketika kita membaca ayat Kitab Suci kita seharusnya mencoba untuk meniru nabi Elia. Kita seharusnya memungkinkan diri kita untuk menjadi wanita dan pria yang dapat mendengar suara Allah yang lirih (I Raja-Raja 19:12); “suara bisikan pelan” yang adalah sabda Allah bagi kita, suara Allah yang mengajar hari kita. Mendengarkan yang lembut ini adalah sebuah penyadaran diri kita akan keberadaan Allah dalam bagian khusus dari ciptaan Allah yang adalah ayat Kitab Suci.

Seruan nabi-nabi untuk bangsa Israel adalah perintah yang penuh sukacita untuk “Dengar!” “Sh’ma Israel: Dengar, O Israel!” Dalam lectio divina kita juga memperhatikan perintah itu dan kembali ke ayat Kitab Suci, mengetahui bahwa kita harus “mendengar” – mendengarkan – suara Allah, yang sering berbicara sangat lirih. Untuk mendengarkan seseorang yang berbicara lirih kita harus belajar untuk hening. Kita harus belajar untuk mencintai keheningan. Jika kita terus-menerus berbicara atau jika kita dikelilingi dengan kebisingan, kita tidak dapat mendengar suara-suara lirih. Oleh karena itu, praktek lectio divina memerlukan bahwa kita pertama-tama hening untuk mendengar suara Allah bagi kita. Ini adalah tahap pertama dari lectio divina, yang disebut lectio – membaca.

Membaca atau mendengar yang adalah tahap pertama dalam lectio divina sangat berbeda dengan membaca cepat yang orang Kristen modern terapkan untuk surat kabar, buku, dan bahkan Kitab Suci. Lectio adalah membaca dengan hormat; membaca baik dalam semangat keheningan dan kekaguman. Kita sedang mendengarkan suara Allah yang lirih yang akan berbicara kepada kita secara pribadi – tidak keras, tetapi intim. Dalam lectio kita membaca secara lambat, penuh perhatian, mendengarkan dengan hati-hati untuk mendengar sebuah kata atau frase yang adalah sabda Allah bagi kita untuk hari ini.

Meditatio – meditasi

Begitu kita sudah menemukan sebuah kata atau pesan dalam Kitab Suci yang berbicara pada kita dalam sebuah cara yang personal, kita harus menelan dan menguyahnya. Gambaran binatang pemamah biak yang sedang menguyah makanan secara pelan digunakan sejak dulu kala sebagai simbol dari orang Kristen yang sedang merenungkan Sabda Allah. Orang Kristen selalu melihat undangan dari Kitab Suci untuk lectio divina dalam contoh Perawan Maria yang “merenungkan dalam hati” apa yang ia lihat dan saksikan dari Kristus (Lukas 2:19). Bagi kita hari ini gambaran-gambaran ini merupakan sarana untuk mengingatkan bahwa kita harus menelan sabda – yaitu, mengingat-ingatnya – dan sementara mengulang-ulangnya secara perlahan pada diri kita sendiri, memungkinkan sabda itu untuk berinteraksi dengan pikiran-pikiran kita, harapan-harapan kita, ingatan-ingatan kita, hasrat-hasrat kita. Ini adalah tahap kedua dalam lectio divina – meditatio. Melalui meditatio kita membiarkan sabda Allah menjadi sabda-Nya bagi kita, sebuah sabda yang mengajar kita dan mempengaruhi kita pada tingkatan terdalam dari diri kita.

Oratio – doa

Tahap ketiga dalam lectio divina adalah oratio – doa: doa dipahami baik sebagai dialog dengan Tuhan, yang adalah percakapan penuh cinta dengan Seseorang yang mengundang kita ke dalam pelukan-Nya; dan sebagai konsekrasi (pengorbanan), doa sebagai persembahan imam bagi Tuhan dari bagian-bagian dari diri kita sendiri yang sebelumnya tidak kita percaya bahwa Tuhan menginginkannya. Dalam doa konsekrasi ini kita membiarkan sabda yang sudah kita telan dan sedang kita renungkan untuk menyentuh dan merubah diri kita yang terdalam. Hanya seperti imam yang mengorbankan bagian-bagian dari roti dan anggur dalam Ekaristi, Tuhan mengundang kita dalam lectio divina untuk menunjukkan pengalaman-pengalaman kita yang paling sulit dan menyakitkan pada Tuhan, dan dengan pelan melantunkan kata atau frase penyembuh yang Tuhan berikan pada kita dalam lectio dan meditatio. Dalam oratio ini, doa konsekrasi ini, kita membiarkan diri kita yang riil untuk disentuh dan diubah oleh sabda Allah.

Contemplatio – kontemplasi

Akhirnya, kita beristirahat dalam keberadaan Seseorang yang sudah menggunakan sabda-Nya sebagai alat untuk mengundang kita untuk menerima pelukan-Nya yang mengubah. Tak seorangpun yang pernah berada dalam cinta perlu diingatkan bahwa ada saat-saat dalam hubungan cinta ketika kata-kata tidak diperlukan. Ini adalah sama dalam hubungan kita dengan Allah. Istirahat yang tenang tanpa kata dalam keberadaan Seseorang yang mencintai kita memiliki nama dalam tradisi Kristen – contemplatio, kontemplasi. Sekali lagi kita mempraktekkan keheningan, membiarkan kata-kata kita pergi; saat ini hanya menikmati pengalaman berada dalam pelukan Allah.

Tentang Ranting Anggur

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yoh 15:4-5).

Di jaman modern ini dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat semakin berkembang pandangan-pandangan tentang independensi manusia di tengah dunia. Ada keyakinan yang tumbuh bahwa manusia dengan mengandalkan kekuatannya sendiri bisa mengatasi berbagai persoalan yang kronis di tengah masyarakat, seperti kemiskinan, kelaparan, pengangguran, ketidakadilan sosial, kekejaman, keterasingan, bencana alam, kerusakan lingkungan, dsb. Tidak sedikit orang Katolik yang sungguh-sungguh memberikan dirinya untuk mengatasi persoalan-persoalan pelik ini terpengaruh oleh keyakinan seperti ini. Mereka melakukan perjuangannya atas dasar kapasitas mengasihi yang dimiliki, namun melepaskan diri dari sumber darimana dia mendapatkan kapasitas itu. Pengaruh keyakinan independensi ini begitu kuat, sehingga para pejuang Katolik tadi lupa untuk senantiasa memperbarui semangat mengasihi dengan menimba kekuatan pada sumbernya, yakni Tuhan, yang seringkali berujung pada frustasi ketika perjuangan tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan, dan pada kasus-kasus yang ekstrim mereka meninggalkan semangat rekonsialiasi yang merupakan bentuk kasih Kristiani yang benar.

Didasari oleh keprihatinan ini, kami mencoba menawarkan ajakan untuk kembali pada sumber kasih kita. Usaha kecil ini kami beri nama Ranting Anggur, sebuah istilah yang digunakan dalam Injil untuk menggambarkan para pengikut Yesus. Sudah dari awal diperingatkan oleh Yesus bahwa ranting-ranting anggur tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, dia hanya bisa berbuah apabila menyatu dengan pokoknya, yakni Yesus sendiri.

Sebagai sebuah awal kami mencoba untuk memperkenalkan bentuk doa khusus yang disebut Lectio Divina yang bisa digunakan masing-masing orang untuk bergaul semakin akrab dengan Tuhan. Lectio Divina ini merupakan bentuk doa kontemplatif menggunakan ayat Kitab Suci yang memungkinkan Sabda Allah menjadi alat untuk persatuan dengan Allah. Praktek doa kuno ini sudah dipertahankan dalam tradisi biara Kristen dan merupakan salah satu warisan berharga dari biara Benediktin.

Untuk sementara ini kami masih membatasi diri pada publikasi terjemahan-terjemahan teori dan praktek Lectio Divina, yang bisa dimanfaatkan langsung oleh pribadi atau kelompok yang berminat. Apabila Tuhan menghendaki, maka Dia akan memungkinkan usaha kecil ini tumbuh dan berkembang demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar (ad maiorem Dei gloriam).

Semoga Tuhan memberkati.